“Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika lak, innal hamda wanni’mata laka walmulk, lasyarika laka” sudah seminggu Abdurrahman, putra kami mengulang bacaan talbiyah. Kadang ia salah mengucapkannya, ketika saya mencoba memperbaikinya, dengan penuh keheranan ia bertanya: “kok mama bisa, seperti mister (pak guru) di sekolah dede?” dengan tersenyum aku jelaskan bahwa bacaan yang sering ia ulang-ulang itu disebut talbiyah yang merupakan niat berhaji, memenuhi panggilan Allah. Dengan semangat ia menimpali “iya mah kata mister, arkanul islam khomsa; syahadatu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, iqomush sholat, itaaudz dzakat, shoum ramadhan, wahijjul baeti limanistatho’a ilaihi sabila. Nanti, dede sama temen-temen di sekolah haji mah bilang labbaik Allahumma labbaik” Saya tersenyum melihat semangat bocah yang baru 4 tahun ini.
Besok, sekolahnya akan melakukan kegiatan manasik haji, rencananya akan dibuat miniatur ka’bah agar mereka bisa membayangkan manasik haji sebenarnya di Mekkah, para wali murid diminta untuk menyediakan kain ihram untuk putra-putrinya. Saya sudah bisa membayangkan bagaimana lucunya mereka bertalbiyah dan melakukan thawaf dengan memakai kain ihram. Saya sangat bersyukur, sekolah-sekolah di Mesir sudah memperkenalkan acara-acara ritual religi kepada anak-anak sejak dini, menjadikan mereka mengenal, mengerti dan menjiwai agamanya jauh sebelum usia baligh. Sehingga mereka tidak lagi bertanya-tanya ketika sudah tiba waktu kewajibannya.
Selain kegiatan manasik haji, beberapa minggu sebelum hari kurban, sekolah-sekolah membagi edaran yang memberikan tawaran kepada wali murid untuk melakukan kurbannya di sekolah. Sementara sekolah yang sudah memiliki dana untuk kurban secara otomatis membeli hewan kurban dan memeliharanya di belakang atau bahkan di halaman depan sekolah; agar anak-anak didiknya melihat “kharuf el ‘id” (hewan kurban). Diharapkan dengan melihat hewan kurban anak-anak mengenal ibadah kurban yang disyari’atkan dalam Islam.
Berkurban bagi masyarakat Mesir bukan hanya memiliki nilai ibadah --berdasarkan QS. Al Kautsar: 2: "Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berqurbanlah." HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi menegaskan perintah ini, sekaligus menjelaskan keutamaan berqurban, Rasulullah bersabda –yang artinya--: "Tak ada amalan yang paling dicintai oleh Allah pada hari Idul Adha daripada memotong hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu akan hadir pada hari kiamat (sebagai bukti amal pelakunya) lengkap dengan tanduk, bulu dan kukunya. Dan sesungguhnya qurban tersebut akan sampai di sisi Allah sebelum darahnya menyentuh bumi." Beberapa riwayat menceritakan bahwa Rasulullah selalu melakukan qurban setelah disyariatkan pada tahun 2 H-- namun lebih dari itu, berkurban sudah menjadi budaya setempat. Apabila di Indonesia kurban masih identik dengan pak dan bu haji, di Mesir hampir semua keluarga yang memiliki kemampuan melakukan kurban. Sebagian masyarakat Mesir membeli hewan kurban beberapa minggu sebelum ‘idul Adha, bahkan tidak sedikit yang membelinya beberapa minggu setelah ‘Idul Fitri. Hewan-hewan kurban tersebut (biasanya kambing atau domba, ada juga yang berkurban sapi dan onta) diikat lehernya dengan tali berwarna-warni (biasanya; putih, merah dan hijau) untuk memberi tanda bahwa mereka dipersiapkan untuk kurban. Coba ibu-ibu perhatikan, sudah seminggu ini, di pojok-pojok jalan ada gerombolan kambing/domba yang ditawarkan pada orang-orang yang lalu lalang. Apabila selama bulan Ramadhan tenda-tenda atau lesehan maidaturahman (hidangan berbuka gratis) bertebaran mewarnai jalanan di Mesir, maka menjelang ‘idul Adha kambing/domba/sapilah yang bergerombol di pojok-pojok jalanan menanti diberi kehormatan untuk dijadikan hewan kurban. Pemandangan ini mungkin tidak akan kita temukan di negara lain.
Pada hari wukuf, kita akan mendengar anak-anak Mesir menyanyikan lagu-lagu rakyat yang menunjukkan bahwa esok hari merupakan waktu berkurban. Dan keesokan harinya setelah melaksanakan sholat ied el adha, hewan-hewan kurban tersebut disembelih, untuk kemudian dibagi 3 bagian; 1/3 dibagikan kepada fakir miskin, 1/3 dibagikan sebagai hadiah untuk kerabat dan sahabat, dan 1/3 untuk yang berkurban. Bagi yang tidak bisa menyembelih sendiri, bisa menggunakan jasa para tukang sembelih profesional yang pada hari itu keliling menawarkan jasanya. Setelah selesai prosesi kurban, sebagian masyarakat mesir melakukan ziarah kubur sebagaimana yang mereka lakukan pada ‘idul fitri untuk membacakan fatihah bagi ahli kubur. Setelah itu kita akan menemukan asap pembakaran daging di mana-mana; di balkon-balkon rumah, di halaman bahkan di taman-taman umum. Sangking melimpahnya daging pada ‘idul Adha, terciptalah sebutan baru untuk ‘idul Adha di mesir , yaitu ‘idul lahma (hari raya daging).
Hari-hari menjelang ‘Idul Adha juga diwarnai oleh acara halal bihalal calon jama’ah haji, di Mesir acara ini dikenal dengan sebutan “laylah liahlillah”. Biasanya dilalukan 2-3 minggu sebelum waktu keberangkatan, dengan mengundang kerabat, sahabat dan tetangga. Acara diisi dengan berbagai taushiyah dan nasyid-nasyid yang menyebutkan keutamaan ibadah haji dan mendo’akan keselamatan calon haji. Di antara adat masyarakat Mesir adalah memasang bendera kecil berwarna putih di atap rumahnya sebagai tanda bahwa anggota keluarga di rumah itu akan menunaikan ibadah haji. Kebiasaan ini masih bisa kita jumpai di desa-desa wilayah Mesir. Bahkan ada yang mencat rumahnya dengan warna putih, dan melukis gambar ka’bah dan domba, juga alat transportasi yang digunakan, gambar kapal laut atau pesawat. Gambar ontapun sering disertakan, walau sudah tidak ada lagi warga Mesir yang berhaji dengan onta, namun dalam benak mereka onta begitu erat kaitannya dengan ibadah haji; di samping sebagai alat transportasi haji satu-satunya pada masa dahulu, dengan ontalah kiswah ka’bah yang dibuat di Mesir dibawa ke Mekkah pada saat itu.
Pada hari H keberangkatan, calon jama’ah haji yang berada di pelosok, bersama-sama menuju Cairo (apabila menggunakan pesawat) atau Suez (apabila menggunakan kapal laut). Biasanya mereka menggunakan kereta dan diantar oleh kerabat, sahabat dan tetangga. Bahkan di beberapa pelosok rombongan wanita membawa pelepah korma sambil menyenandungkan lagu-lagu rakyat yang terkait dengan pelepasan jama’ah haji. Bisa dibayangkan bagaimana suasana stasiun-stasiun kereta di hari-hari keberangkatan jama’ah haji.
Nah, para pembaca, begitulah suasana hari-hari jelang Idul Adha dan hari Idul Adha di Mesir. Lagi-lagi kita bisa belajar dari masyarakat Mesir cara merayakan Idul Adha dengan berkurban, sebagaimana kita belajar dari mereka cara mengisi bulan Ramadahan dengan menyediakan maidaturrahman bagi orang berpuasa. Jazakumullah ya Ahla Misr!
Besok, sekolahnya akan melakukan kegiatan manasik haji, rencananya akan dibuat miniatur ka’bah agar mereka bisa membayangkan manasik haji sebenarnya di Mekkah, para wali murid diminta untuk menyediakan kain ihram untuk putra-putrinya. Saya sudah bisa membayangkan bagaimana lucunya mereka bertalbiyah dan melakukan thawaf dengan memakai kain ihram. Saya sangat bersyukur, sekolah-sekolah di Mesir sudah memperkenalkan acara-acara ritual religi kepada anak-anak sejak dini, menjadikan mereka mengenal, mengerti dan menjiwai agamanya jauh sebelum usia baligh. Sehingga mereka tidak lagi bertanya-tanya ketika sudah tiba waktu kewajibannya.
Selain kegiatan manasik haji, beberapa minggu sebelum hari kurban, sekolah-sekolah membagi edaran yang memberikan tawaran kepada wali murid untuk melakukan kurbannya di sekolah. Sementara sekolah yang sudah memiliki dana untuk kurban secara otomatis membeli hewan kurban dan memeliharanya di belakang atau bahkan di halaman depan sekolah; agar anak-anak didiknya melihat “kharuf el ‘id” (hewan kurban). Diharapkan dengan melihat hewan kurban anak-anak mengenal ibadah kurban yang disyari’atkan dalam Islam.
Berkurban bagi masyarakat Mesir bukan hanya memiliki nilai ibadah --berdasarkan QS. Al Kautsar: 2: "Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berqurbanlah." HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi menegaskan perintah ini, sekaligus menjelaskan keutamaan berqurban, Rasulullah bersabda –yang artinya--: "Tak ada amalan yang paling dicintai oleh Allah pada hari Idul Adha daripada memotong hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu akan hadir pada hari kiamat (sebagai bukti amal pelakunya) lengkap dengan tanduk, bulu dan kukunya. Dan sesungguhnya qurban tersebut akan sampai di sisi Allah sebelum darahnya menyentuh bumi." Beberapa riwayat menceritakan bahwa Rasulullah selalu melakukan qurban setelah disyariatkan pada tahun 2 H-- namun lebih dari itu, berkurban sudah menjadi budaya setempat. Apabila di Indonesia kurban masih identik dengan pak dan bu haji, di Mesir hampir semua keluarga yang memiliki kemampuan melakukan kurban. Sebagian masyarakat Mesir membeli hewan kurban beberapa minggu sebelum ‘idul Adha, bahkan tidak sedikit yang membelinya beberapa minggu setelah ‘Idul Fitri. Hewan-hewan kurban tersebut (biasanya kambing atau domba, ada juga yang berkurban sapi dan onta) diikat lehernya dengan tali berwarna-warni (biasanya; putih, merah dan hijau) untuk memberi tanda bahwa mereka dipersiapkan untuk kurban. Coba ibu-ibu perhatikan, sudah seminggu ini, di pojok-pojok jalan ada gerombolan kambing/domba yang ditawarkan pada orang-orang yang lalu lalang. Apabila selama bulan Ramadhan tenda-tenda atau lesehan maidaturahman (hidangan berbuka gratis) bertebaran mewarnai jalanan di Mesir, maka menjelang ‘idul Adha kambing/domba/sapilah yang bergerombol di pojok-pojok jalanan menanti diberi kehormatan untuk dijadikan hewan kurban. Pemandangan ini mungkin tidak akan kita temukan di negara lain.
Pada hari wukuf, kita akan mendengar anak-anak Mesir menyanyikan lagu-lagu rakyat yang menunjukkan bahwa esok hari merupakan waktu berkurban. Dan keesokan harinya setelah melaksanakan sholat ied el adha, hewan-hewan kurban tersebut disembelih, untuk kemudian dibagi 3 bagian; 1/3 dibagikan kepada fakir miskin, 1/3 dibagikan sebagai hadiah untuk kerabat dan sahabat, dan 1/3 untuk yang berkurban. Bagi yang tidak bisa menyembelih sendiri, bisa menggunakan jasa para tukang sembelih profesional yang pada hari itu keliling menawarkan jasanya. Setelah selesai prosesi kurban, sebagian masyarakat mesir melakukan ziarah kubur sebagaimana yang mereka lakukan pada ‘idul fitri untuk membacakan fatihah bagi ahli kubur. Setelah itu kita akan menemukan asap pembakaran daging di mana-mana; di balkon-balkon rumah, di halaman bahkan di taman-taman umum. Sangking melimpahnya daging pada ‘idul Adha, terciptalah sebutan baru untuk ‘idul Adha di mesir , yaitu ‘idul lahma (hari raya daging).
Hari-hari menjelang ‘Idul Adha juga diwarnai oleh acara halal bihalal calon jama’ah haji, di Mesir acara ini dikenal dengan sebutan “laylah liahlillah”. Biasanya dilalukan 2-3 minggu sebelum waktu keberangkatan, dengan mengundang kerabat, sahabat dan tetangga. Acara diisi dengan berbagai taushiyah dan nasyid-nasyid yang menyebutkan keutamaan ibadah haji dan mendo’akan keselamatan calon haji. Di antara adat masyarakat Mesir adalah memasang bendera kecil berwarna putih di atap rumahnya sebagai tanda bahwa anggota keluarga di rumah itu akan menunaikan ibadah haji. Kebiasaan ini masih bisa kita jumpai di desa-desa wilayah Mesir. Bahkan ada yang mencat rumahnya dengan warna putih, dan melukis gambar ka’bah dan domba, juga alat transportasi yang digunakan, gambar kapal laut atau pesawat. Gambar ontapun sering disertakan, walau sudah tidak ada lagi warga Mesir yang berhaji dengan onta, namun dalam benak mereka onta begitu erat kaitannya dengan ibadah haji; di samping sebagai alat transportasi haji satu-satunya pada masa dahulu, dengan ontalah kiswah ka’bah yang dibuat di Mesir dibawa ke Mekkah pada saat itu.
Pada hari H keberangkatan, calon jama’ah haji yang berada di pelosok, bersama-sama menuju Cairo (apabila menggunakan pesawat) atau Suez (apabila menggunakan kapal laut). Biasanya mereka menggunakan kereta dan diantar oleh kerabat, sahabat dan tetangga. Bahkan di beberapa pelosok rombongan wanita membawa pelepah korma sambil menyenandungkan lagu-lagu rakyat yang terkait dengan pelepasan jama’ah haji. Bisa dibayangkan bagaimana suasana stasiun-stasiun kereta di hari-hari keberangkatan jama’ah haji.
Nah, para pembaca, begitulah suasana hari-hari jelang Idul Adha dan hari Idul Adha di Mesir. Lagi-lagi kita bisa belajar dari masyarakat Mesir cara merayakan Idul Adha dengan berkurban, sebagaimana kita belajar dari mereka cara mengisi bulan Ramadahan dengan menyediakan maidaturrahman bagi orang berpuasa. Jazakumullah ya Ahla Misr!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar